Browsed by
Category: Review Wisata

Masjid Mahligai Minangkabau, Kekayaan Religi Kota Padang

Masjid Mahligai Minangkabau, Kekayaan Religi Kota Padang

Berwisata di tengah Kota Padang? Mau wisata ke mana? Jangan pesimis dulu. Di tengah Kota Padang ada banyak tempat yang bisa dikunjungi untuk melepaskan dahaga berwisata para petualang. Salah satunya Masjid Raya Sumatera Barat, masjid dengan arsitektur unik yang dirancang untuk ramah gempa.

Terletak di persimpangan antara Jalan Khatib Sulaiman dan Jalan KH Ahmad Dahlan, Kec. Padang Utara, Masjid Raya Sumatera Barat mulai dibangun pada tahun 2008 dan terus dibangun hingga kini, serta telah menjadi pusat kegiatan agama skala regional seperti tabligh akbar, pertemuan jamaah, penyelenggaraan Salat Ied hingga Salat Jumat setiap minggunya.

Masjid Mahligai Minangkabau

Masjid karya arsitek Rizal Muslimin ini memiliki bangunan utama yang terdiri dari tiga lantai. Luas area bangunan sekitar 40.343 meter persegi dan mampu menampung sekitar 20.000 jamaah. Masjid ini dirancang untuk mampu menahan gempa hingga 10 SR sekaligus bisa dijadikan lokasi evakuasi bila terjadi tsunami.

Masjid ini terlihat unik karena bagian atapnya yang terinspirasi dari atap khas rumah Minangkabau, sekaligus mengadaptasi bentuk bentangan kain yang digunakan empat kabilah suku Quraisy saat berselisih pendapat mengenai pemindahan batu Hajar Aswad di Mekkah.

Sementara itu, bagian mihrab masjid terinspirasi dari bentuk batu Hajar Aswad dengan ukiran Asmahul Husna berwarna emas di atapnya.

Dinding masjid berbentuk ukiran tempat Al-Quran dengan empat sudut yang terinspirasi dari filosofi adat nan ampek (empat jenis adat Minangkabau), yaitu adat nan subana adat (adat sebenar-benarnya adat), adat nan diadatkan (adat yang dibuat menjadi adat secara resmi), adat nan taradat (adat yang menjadi adat tanpa dibuat menjadi adat secara resmi) dan adat istiadat (adat yang diwariskan turun temurun).

Kemudian, bagian eksterior Masjid Raya Sumatera Barat menampilkan ukiran kaligrafi dan motif kain songket khas Minangkabau.

Bentuk dinding masjid yang memiliki ukiran segitiga dengan enam sudut di dalamnya terinspirasi dari filosofi tata sosial Minangkabau, yaitu tiga tungku sajarangan, tiga tali sapilin (ulama, niniak mamak / lembaga penghulu adat, cadiak pandai / para ilmuwan dan kalangan berpendidikan) yang harus memegang teguh rukun iman sebagai pengikat seluruh elemen di masyarakat.

Ukiran dengan enam sudut ini sempat mengundang kontroversi di tengah masyarakat Minangkabau, tetapi menurut beberapa kalangan, bentuk tersebut dibuat berdasarkan filosofi tiga tungku sajarangan, tiga tali sapilin. Bagaimana menurut Sanak sekalian?

Ayo para pencinta arsitektur, kunjungi dan pelajari berbagai hal dari masjid ini! Tapi mendatangi masjid ini jangan hanya untuk foto-foto dan upload di media sosial ya! Mari tetap hormati Masjid Raya Sumatera Barat sebagai sebuah tempat ibadah yang patut dijaga fungsi utamanya dan kebersihannya. 🙂

Pantai Goa Cemara Di Bantul Yogyakarta

Pantai Goa Cemara Di Bantul Yogyakarta

Pantai Goa Cemara, Bantul, Yogyakarta – Pantai yang berada di wilayah Bantul, Yogyakarta ini terbilang unik. Bukan cuma keindahan pantai saja yang dapat Anda nikmati, tapi juga suasana khas yang Anda rasakan ketika bertandang ke pantai ini.

Pantai Goa Cemara adalah salah satu pantai di pesisir selatan Bantul yang membuat Anda semakin penasaran untuk mendatanginya. Ya, pantai yang berlokasi di desa Gadingsari, Sanden, Bantul, Yogyakarta ini menghadirkan pengalaman wisata yang berbeda dan pastinya berkesan.

Pantai Goa Cemara

Pantai Goa Cemara, mendengar namanya saja sudah terbayang pantai yang dikelilingi pohon cemara. Tapi tunggu dulu, di pantai Goa Cemara, Anda tidak akan menemukan goa yang selama ini Anda bayangkan. Karena goa yang dimaksud hanyalah sebuah kiasan.

Rimbunnya pepohonan cemara udang yang berjejer akan langsung terlihat saat anda Sampai di area pantai Goa Cemara. Hutan pohon cemara ini terbentang mulai di pelataran parkir hingga sepanjang pinggir pantai.

Saking lebatnya, pepohonan cemara ini menghalangi pandangan Anda ke pantai. hanya terdengar sayup-sayup gemuruh ombak, Nah, untuk sampai di bibir pantai, Anda harus melewati hutan pohon cemara ini.

Di bawah rindangnya dedaunan pohon cemara tampak lorong-lorong yang membentuk seperti terowongan atau goa. Itulah kenapa pantai ini lalu dinamakan pantai Goa Cemara oleh masyarakat sekitar.

Ribuan pohon cemara sengaja ditanam di tepian laut untuk menahan angin yang datang dari arah laut dan darat.

Tujuannya untuk melindungi gumuk pasir yang berada di sekitar pantai agar tidak hilang tertiup angin. Tapi tidak hanya itu, pepohonan cemara ini ternyata juga menciptakan keindahan tersendiri yang menjadi salah satu daya tarik pantai Goa Cemara.

Hawa sejuk langsung menyergap Anda ketika masuk ke dalam pelukan hutan cemara yang terlihat alami. Ranting-ranting pohon cemara saling berkelindan menciptakan keteduhan yang melindungi Anda dari teriknya matahari yang membakar kulit.

Suasananya begitu tenteram dan damai. Hembusan angin laut yang bertiup sepoi-sepoi meniup pepohonan cemara, membuatnya tampak menari-menari.

Lautan lepas dengan gelegar ombaknya mulai tampak dari balik batang dan ranting pohon cemara. Hal menarik lainnya, Anda bisa menemukan penangkaran penyu dan sebuah mercusuar tak jauh dari bibir pantai.

Fasilitas pantai Goa Cemara cukup lengkap, deretan warung menyajikan aneka makanan, cocok disantap bersama keluarga atau sahabat. Ada juga sirkuit ATV dan arena kemah (camping ground) untuk Anda yang menyukai tantangan. (wisataloka.com)

Kebun Binatang Ragunan Jakarta

Kebun Binatang Ragunan Jakarta

Kebun Binatang Ragunan, Jakarta – Sebagai kebun binatang yang pertama kali di Indonesia, Kebun Binatang Ragunan mempunyai sejarah yang sangat panjang. Berawal pada tahun 1864, kebun binatang ini lahir dengan nama Planten En Dierentuin yang berarti “tanaman dan kebun binatang”.

Adalah organisasi pecinta flora dan fauna Batavia atau Culture Vereniging Planten en Dierentuin at Batavia yang mengelola kebun binatang yang awalnya bertempat di Cikini, Jakarta dengan luas sekitar 10 hektar.

Kebun Binatang Ragunan Jakarta

Seiring berjalannya waktu, kebun binatang yang semula berada di Cikini, lalu dipindahkan ke daerah Ragunan, Pasar Minggu, Jakarta.

Kebun binatang ini pun akhirnya diresmikan pada tanggal 22 Juni 1966 dan sejak saat itulah nama Taman Margasatwa Ragunan muncul. Masyarakat pun lebih mengenalnya dengan nama Kebun Binatang Ragunan dengan luas sekitar 147 hektar.

Kebun Binatang Ragunan mempunyai koleksi aneka satwa liar dan berbagai jenis spesies tumbuhan. Lebih dari 2.000 ekor satwa dan puluhan ribu tumbuhan menghuni kawasan kebun binatang ini.

Sebagian besar satwa liar itu termasuk satwa langka dan di Kebun Binatang Ragunan inilah mereka dijaga tetap lestari. Pepohonan yang tumbuh rindang di setiap sudut menambah kesejukan hawa di Kebun Binatang Ragunan.

Hadirnya Pusat Primata Schmutzer yang berkelas internasional menambah daya tarik Kebun Binatang Ragunan. Di pusat primata yang berfungsi sebagai konservasi hewan primata ini Anda dapat menyaksikan aneka ragam hewan primata, misalnya orang utan, gorilla, simpanse, kukang, siamang, bekantan, dan lainnya.

Yang menarik, hewan-hewan primata itu dibiarkan bebas layaknya hidup di habitat aslinya. Untuk melihat mereka, Anda bisa melewati jembatan atau terowongan yang tersedia.

Berkeliling dengan jalan kaki sudah sangat biasa, tapi menunggang gajah atau unta bisa memberikan sensasi petualangan yang berbeda. Gajah dan unta itu sudah sangat terlatih sehingga Anda pun dapat menaikinya dengan aman dan nyaman.

Aktivitas menaiki hewan ini dapat Anda temukan pada waktu akhir pekan atau hari libur nasional. Ada juga atraksi menarik berupa pemberian makan kepada hewan-hewan primata (feeding time).

Pilihan lain yang tak kalah menariknya, Anda bisa menaiki kereta keliling atau sepeda wisata. Ada pula Children Zoo yaitu tempat anak-anak berinteraksi dengan hewan-hewan jinak. Wahana ini dilengkapi dengan permainan yang disukai anak-anak misalnya ayunan dan jaring laba-laba.

Kebun Binatang Ragunan yang berjarak sekitar 20 km dari pusat kota Jakarta mudah dicapai baik menggunakan kendaraan pribadi atau angkutan umum. Nah, sekarang saatnya mempersiapkan liburan Anda ke Kebun Binatang Ragunan.

Pangek Pisang Solok & Solok Selatan, Jaminan Bikin Ketagihan

Pangek Pisang Solok & Solok Selatan, Jaminan Bikin Ketagihan

Di tengah suasana perayaan adat yang spesial di Solok dan Solok Selatan, seperti pengangkatan datuak/pemimpin adat, peresmian rumah adat dan pernikahan, atau periode religius seperti bulan Ramadhan, selalu tersedia satu makanan ringan khas yang biasanya habis dalam waktu sekejap setelah dihidangkan. Namanya pangek pisang, hidangan gurih, manis dan wangi yang menggiurkan.

Daun pisang diletakkan di atas wajan, sebagai alas pisang batu atau pisang kepok matang. Kemudian santan kental dituangkan, ditambah dengan irisan kunyit, garam, vanili dan sedikit gula. Wajan harus ditutup rapat, lalu pisang dimasak hingga santan menjadi kental dan mengering, serta meresap ke dalam daging pisangnya.

pangek pisang

Di daerah Solok, hidangan ini biasanya dipadukan dengan lupis ketan hitam atau nasi lamak, yang berasal dari beras ketan yang dimasak dengan santan. Perpaduan wangi daun pandan, kelapa dan kunyit bercampur menjadi satu, sehingga saat memakannya, rasanya kita terbang seperti di komik anak cita rasa.

Kalau di Solok Selatan, biasanya pangek pisang dipadukan dengan nasi lamak berwarna kuning atau putih yang dibuat dari beras pulut atau ketan putih, yang dicampur dengan santan dan kunyit dan dikukus hingga matang. Rasanya? Tidak kalah enak dengan yang dipadukan dengan lupis ketan hitam.

Kini, banyak rang mudo (orang muda) Solok & Solok Selatan yang mulai menjadikan pangek pisang sebagai subjek wisata kuliner, sehingga untuk menikmati hidangan ini, kita tidak perlu lagi menunggu acara adat atau hari raya keagamaan.

Tertarik mencoba? Mampir dong ke Solok & Solok Selatan! Paling asyik makan pangek pisang sambil menikmati keindahan berbagai nagari di sana. Jangan lupa ngobrol dengan penduduk setempat ya. Kalau beruntung, kita bisa diajak masuk dapur penduduk untuk melihat proses pembuatan pangek pisangnya!

Makan Randang Lokan di Pesisir Selatan, Nikmat!

Makan Randang Lokan di Pesisir Selatan, Nikmat!

Masakan randang yang ada di Sumatera Barat itu ada beragam variasi lho, bukan hanya randang daging atau ayam saja. Sudah coba randang lokan yang berasal dari kawasan Pesisir Selatan? Kalau belum, cobain deh!

Kabupaten Pesisir Selatan memang terkenal dengan wisata baharinya. Lokan adalah sejenis kerang dengan cangkang agak besar dan kehitaman yang ada di sekitar muara sungai di Pesisir Selatan, terutama di Sungai Indrapura dan Sungai Batang Tarusan.

Lokan adalah sumber vitamin, sumber mineral dan sumber protein hewani lengkap yang mengandung semua jenis asam amino esensial yang dibutuhkan tubuh, dan yang terpenting, lebih rendah lemak dibandingkan daging sapi! Jadi randang lokan ini lebih sehat dari randang daging! Hore!

Randang Lokan

Mencari lokan untuk dibuat randang itu nggak gampang lho! Apalagi saat sedang musim hujan.

Menurut Reno Andam Suri, penulis buku Randang Traveler: Menyingkap Bertuahnya Randang Minang, untuk mendapatkan lokan, dibutuhkan orang-orang yang ahli menyelam, karena lokan bisa didapatkan di kedalaman 5 hingga 10 meter dan berada di dalam lumpur.

Selain itu, lokan berada di wilayah muara sungai, di mana banyak terdapat buaya. Sehingga, para penjaring lokan harus mencari lokan di pagi hingga siang hari, saat para buaya sedang beristirahat.

Ada pula masyarakat yang mengambil lokan dengan adat sopan santun daerah setempat, yaitu dengan meminta izin sebelum menyelam, dengan mengatakan “Inyiak Datuak, permisi, ambo ka mancari makan.” Hal ini disebabkan karena di kisah rakyat Minangkabau, buaya dianggap sebagai makhluk yang sangat dihormati.

Randang lokan memiliki warna agak gelap atau coklat kehitaman dengan rasa kaldu yang kuat. Ayo datang ke Pesisir Selatan untuk mencoba randang lokan! Paling asyik makan randang ini di atas nasi putih hangat sambil ngobrol akrab dengan penduduk setempat!

Istana Bung Hatta, Rumah Kelahiran Sang Bung Proklamator

Istana Bung Hatta, Rumah Kelahiran Sang Bung Proklamator

Berbangga dari sejarah secara berlebihan itu tidak perlu. Kita tidak mau terjebak dalam romantisme yang tidak produktif. Bukan berarti belajar sejarah itu tidak penting. Kita tetap harus mengerti masa lalu kita, agar bisa menerima identitas diri kita sendiri dan melakukan sesuatu yang positif dan produktif di masa kini, untuk membangun hari esok yang lebih baik.

Salah satu cara belajar dari sejarah adalah dengan napak tilas ke tempat tokoh sejarah dilahirkan. Bukan hanya untuk foto-foto! Pasti di sana ada banyak cerita yang bisa menginspirasi kita untuk berkarya di hari ini.

Istana Bung Hatta

Kalau kita mampir ke Bukittinggi, suasana kental Bung Hatta terlihat kuat di mana-mana. Mulai dari Istana Bung Hatta yang terletak di seberang taman Jam Gadang Bukittinggi, Taman Monumen Bung Hatta yang ada di samping gedung Istana Bung Hatta, hingga Museum Rumah Kelahiran Bung Hatta yang ada di Jalan Soekarno-Hatta No. 37.

Museum rumah kelahiran Bung Hatta adalah rumah milik nenek Bung Hatta yang kini dikelola oleh Dinas Pariwisata, Seni dan Budaya Kota Bukittinggi, terbuka untuk dikunjungi masyarakat setiap hari Senin-Minggu, pukul 08.00-16.00. Bung Hatta menghabiskan masa kecilnya di rumah ini, hingga ia berusia 11 tahun dan harus melanjutkan pendidikan di Meer Uitgebred Lager Onderwijs (MULO)/sekolah menengah di Padang.

Rumah ini telah direnovasi pada tahun 1995, tetapi tidak mengubah bentuk aslinya. Sebagian besar perabotan di dalam rumah masih asli dari peninggalan masa kecil Bung Hatta dan tata letak perabotan pun masih dipertahankan di tempat asalnya.

Terlihat jelas bahwa keluarga Bung Hatta adalah keluarga yang sangat berada pada masanya. Di bagian belakang rumah, terdapat istal kuda yang kini kosong, menandakan bahwa keluarga Bung Hatta mengoleksi beberapa kuda di zaman dulu.

Tak jauh dari istal kuda, ada semacam garasi untuk koleksi bugi/bendi/delman milik keluarga yang sering digunakan Bung Hatta untuk pergi ke sekolah sewaktu kecil. Jika tidak naik bendi dengan diantar kusir, Bung Hatta akan naik sepeda untuk pergi ke sekolah. Sepeda itu masih terpajang dengan rapi di kamar yang ditinggali Bung Hatta semasa kecil.

Saat berjalan-jalan di belakang rumah, pengunjung museum dipersilahkan mengenakan sandal tangkelek/bakiak, untuk merasakan gaya hidup keluarga Bung Hatta dulu, yang memang mengenakan sandal itu ke mana-mana, termasuk untuk pergi ke masjid.

Museum ini sangat komprehensif memajang dan menguraikan profil dan pemikiran Bung Hatta. Mulai dari kamar tempat Bung Hatta dilahirkan, kamar kakek dan mamak beliau, ranji keluarga/silsilah keluarga Bung Hatta dari pihak ibu dan bapak, hingga sekitar 6.000 buah buku bacaan Bung Hatta dan contoh pidato beliau yang dipajang di sana, serta puluhan koleksi foto dan lukisan Bung Hatta.

Kalau datang ke tempat ini hanya untuk lewat-lewat dan lihat-lihat, kurang seru! Paling asyik datang ke sini dengan ditemani pengurus museum atau penggila sejarah yang mengerti betul tentang Bung Hatta, jadi berkeliling museumnya sambil mendengar cerita!

Lain kali ke Bukittinggi jangan hanya belanja ya. Ayo mampir ke Museum Rumah Kelahiran Bung Hatta, dapatkan segudang inspirasi dari masa kecil beliau untuk berkarya!

Mengenal Yogyakarta; Berbagai Penamaan Yang Umum

Mengenal Yogyakarta; Berbagai Penamaan Yang Umum

Sudah gak asing lagi kita mendengar salah satu kota di Indonesia ini, yaitu Daerah Istimewa Yogyakarta. Selain keanekaragaman seni dan budayanya, salah satu Daerah Istimewa di Indonesia ini juga kaya akan obyek wisatanya. Ada berbagai macam Pantai yaitu PantaiParangtritis, Pantai Baron, Pantai Krakal, Pantai Siung, dan masih banyak lagi.

Selain itu juga banyak tempat wisata lain selain pantai diantaranya adalah Malioboro, Benteng Vandenbergh, Pemandian Taman Sari, Keraton Yogyakarta, Pasar Bringharjo,dan lain-lain. Selain menjadi Kota Pelajar, Jogjakarta juga sebagai Kota seni dan budaya.

Hal itu ditunjukkan dengan banyaknya seniman-seniman yang berasal dari jogjakarta diantaranya Sheila On 7, Jikustik, Jadug Ferianto, Butet Kertarajasa, dan masih banyak lagi.

Yogyakarta

Naah..sebelum kita mengupas lebih dalam lagi tentang Jogjakarta alangkah baiknya kita kenal Jogja melalui Namanya terlebih dahulu. Banyak Sebutan untuk daerah Istimewa yang satu ini yaitu Yogyakarta. Orang-orang tua menyebut Ngayogyakarta, orang-orang Jawa Timur dan Jawa Tengah menyebut Yogja atau Yojo.

Disebut Jogja dalam slogan Jogja Never Ending Asia. Belakangan muncul sebutan baru, yaitu Djokdja. Sekilas memang membingungkan, namun menunjuk pada daerah yang sama. Lalu, bagaimana bisa kisahnya sampai nama kota ini bisa begitu bervariasi?

Paling tidak, ada 3 perkembangan yang bisa diuraikan. Nama Ngayogyakarta dipastikan muncul tahun 1755, ketika Pangeran Mangkubumi yang bergelar Sri Sultan Hamengku Buwono I mendirikan Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Kraton yang berdiri di Alas Bering itu merupakan wujud Perjanjian Giyanti yang dilakukan dengan Pakubuwono III dari Surakarta.

Tak jelas kapan mulai muncul penamaan Yogyakarta, apakah muncul karena pemenggalan dari nama Ngayogyakarta atau sebab lain. Namun, nama Yogyakarta secara resmi telah dipakai sejak awal kemerdekaan Indonesia.

Ketika menjadi ibukota Indonesia pada tahun 1949, kota yang juga bergelar kota pelajar ini sudah disebut Yogyakarta. Sri sultan Hamengku Buwono IX juga menggunakan nama Yogyakarta ketika mengumumkan bahwa kerajaan ini merupakan bagian dari Republik Indonesia.

Berbagai penamaan muncul kemudian, seperti Yogja, Jogja, Jogya dan Yogya. Bisa dikatakan bahwa variasi nama itu muncul akibat pelafalan yang berbeda-beda antar orang dari berbagai daerah di Indonesia. Uniknya, hampir semua orang bisa memahami tempat yang ditunjuk meski cara pengucapannya berbeda.

Karena kepentingan bisnis, nama Jogja kemudian menguat dan digunakan dalam slogan Jogja Never Ending Asia. Slogan tersebut dibuat untuk membangun citra Yogyakarta sebagai kota wisata yang kaya akan pesona alam dan budaya. Alasan dipilih ‘Jogja’ adalah karena (diasumsikan) lebih mudah dilafalkan oleh banyak orang, termasuk para wisatawan asing. Sempat pula berbagai institusi mengganti Yogyakarta dengan Jogjakarta.

Dengan berbagai lafal dan cara penulisannya, bisa dikatakan Yogyakarta merupakan daerah yang paling banyak memiliki variasi nama. Jakarta hanya memiliki satu (Jayakarta), sementara Bali tidak memilikinya sama sekali.

Kini anda tak perlu bingung lagi jika kebetulan ada orang yang menuliskan kota Yogyakarta seperti caranya melafalkan.

Jika mencari tahu tentang seluk beluk kota ini di internet, nama Yogyakarta merupakan yang paling tepat sebab merupakan nama yang paling umum digunakan dalam bahasa tulisan. Alternatif lainnya, anda bisa menggunakan nama Yogyakarta, nama kedua yang paling sering digunakan.

Rakik, Camilan Seafood Gurih Pariaman

Rakik, Camilan Seafood Gurih Pariaman

Waktu kecil, saya seringkali diajak mengunjungi rumah bako bundo saya di Pariaman (catatan: bako artinya keluarga ayah, bundo artinya ibu). Hal paling mencolok dari kunjungan ke tempat ini adalah suhu udara yang bukan main panasnya. Wajar saja, Pariaman adalah salah satu daerah dengan garis pantai terpanjang di Sumatera Barat, dengan panjang garis pantai 60,50 km.

Suhu panas bukan alasan untuk malas silaturahmi dengan keluarga bako bundo. Ada banyak hal yang menarik yang bisa membuat saya lupa dengan panasnya udara.

camilan rakik

Salah satunya adalah makanan. Saya ingat sekali adik ungku saya (catatan: ungku artinya kakek) yang memperkenalkan saya kepada makanan khas Pariaman yang bernama Rakik.

Rakik adalah sejenis gorengan yang terbuat dari makanan laut bercampur adonan tepung. Rasanya garing dan gurih seperti kerupuk, dengan daging ikan atau udang di bagian tengahnya. Kebanyakan orang mengenali jenis camilan ini dengan sebutan peyek atau rempeyek.

Dalam Bahasa Minangkabau, kata rakik memiliki arti rakit. Mungkin makanan ini mendapat nama Rakik karena bentuknya seperti rakit? Silahkan orang Minangkabau yang mengerti untuk komentar di kolom diskusi di bawah ini! 🙂

Kalau kita jalan-jalan ke pasar di Pariaman, kita akan menemukan puluhan tumpukan rakik dari berbagai macam hewan laut yang dijual para pedagang. Rasanya ingin beli semua, tetapi uang jajan saya selalu tidak cukup. 🙂

Kalau saya mencoba sendiri membuat rakik di rumah, rasanya pasti tidak sama dengan yang dijual di pasar di Pariaman. Selalu saja ada yang kurang. Jadi, ayo datang ke Pariaman untuk makan rakik! Main ke Sumatera Barat, jangan makan rendang atau gulai saja!

Pantai Senggigi Lombok, Info Lengkap

Pantai Senggigi Lombok, Info Lengkap

Pantai Senggigi, Lombok, NTB – Destinasi wisata yang paling terkenal di Lombok salah satunya adalah pantai Senggigi. Saking terkenalnya, pantai Senggigi sudah menjadi icon wisata Lombok.

Ya, banyak alasan kenapa Anda harus mengunjungi pantai ini. Yang pasti, keindahan panorama pantainya akan membuat Anda terpesona dan berdecak kagum. Pantai Senggigi dekat dengan kawasan perbukitan yang berlokasi di Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat atau sekitar 12 km dari kota Mataram.

Pantai Senggigi, Lombok

Sepanjang garis pantai, Anda melihat hamparan pasir yang membentang, perpaduan pasir putih bersih dan pasir hitam, menawarkan eksotisme yang tak terlupakan.

Ombak pantai Senggigi relatif tenang, sehingga setiap pengunjung dapat bersantai melakukan kegiatan di pantai dengan aman. Misalnya, Anda dapat duduk, berbaring di pinggir pantai, berenang, atau naik canoe.

Keindahan alam bawah laut pantai Senggigi menggoda untuk dijelajahi. Untuk menyaksikannya sendiri, Anda bisa snorkeling melihat beragam ikan berwarna warni dan biota laut lain serta terumbu karang yang masih terjaga kelestariannya.

Pantai Senggigi sangatlah indah Jika Anda datang pada sore hari, karena Anda dapat menyaksikan matahari tenggelam.

Warna langit yang berwarna jingga kemerahan berpadu dengan tekstur awan dan lautan pantai Senggigi yang memantulkan cahaya keemasan menawarkan keindahan alam yang sangat mengagumkan. Jangan lupa untuk mengabadikan momen indah di ini.

Fasilitas di sekitar pantai Senggigi sangatlah lengkap. Ada bisa menemukan banyak tempat penginapan seperti hotel atau guest untuk para wisatawan dengan harga yang bervariasi.

Untuk kuliner, banyak restoran dan kafe di dekat pantai Senggigi yang menawarkan aneka menu khas Lombok seperti Ayam Taliwang dan Plecing kangkung. Selain itu, banyak pula tempat berbelanja souverir khas pantai Sengigi. Akses menuju pantai Sengiggi sangatlah mudah.

Anda perlu menempuh sekitar dua jam perjalanan dari Bandara Internasional Lombok.

Air Terjun Grojogan Sewu

Air Terjun Grojogan Sewu

Grojogan Sewu, Karanganyar, Jawa Tengah – Merupakan salah satu air terjun yang tertinggi di propinsi Jawa Tengah, Grojogan Sewu menawarkan pemandangan alam yang mengagumkan.

Ketinggiannya mencapai 80 meter dan terletak di lereng gunung Lawu, Tawangmangu, Karanganyar, Jawa Tengah. Air terjun ini berada di kawasan hutan lindung Grojogan Sewu seluas 20 hektar dan suasananya masih terasa sejuk dan alami.

Air Terjun Grojogan Sewu

Grojogan Sewu itu sendiri berasal dari bahasa Jawa yang berarti ‘air terjun seribu’.Pemandangan yang indah dan hawa pegunungan yang dingin namun menyegarkan membuat kawasan wisata ini menjadi favorit para wisatawan.

Untuk sampai di air terjun, Anda perlu memiliki stamina yang cukup karena Anda harus menuruni ratusan anak tangga. Dalam perjalanan Anda menuju air terjun, tak jarang Anda akan mendapati kera-kera yang merupakan penghuni hutan.

Di samping menikmati keindahan panorama pegunungan, Anda juga bisa mencicipi masakan khas daerah ini, yaitu sate kelinci. Biasanya, sate kelinci disajikan bersama lontong, cabe, bawang merah, dan bumbu kacang.

Anda bisa mencobanya di warung-warung sekitar air terjun. Menyantap sate kelinci sambil menyaksikan air terjun, tentu menciptakan kesan tersendiri.

Selain air terjun, ada pula atraksi yang lain seperti kolam renang, flying fox, arung jeram, area outbound.

Untuk menuju Grojogan Sewu, Anda dapat menggunakan kendaraan pribadi atau menggunakan angkutan umum karena aksesnya cukup mudah.