Tabuik, Mengingat Kematian Dengan Kemeriahan, Mengingat Kematian Dengan Kemeriahan

Hari Asyura adalah hari kesepuluh di bulan Muharram yang menjadi hari penting bagi berbagai kalangan untuk alasan yang berbeda-beda.

Saat hijrah ke Madinah, Nabi Muhammad memperhatikan bahwa pada hari Asyura, orang Yahudi di Madinah biasa berpuasa, diduga sebagai bagian dari perayaan Yom Kippur, hari yang dianggap paling suci di agama Yahudi. Nabi Muhammad lalu mengajak umat Muslim untuk ikut berpuasa di hari itu, untuk menghormati puasanya kaum Yahudi.

Bagi Muslim Sunni, Hari Asyura merupakan hari terjadinya banyak kejadian penting, di antaranya:

  • Diciptakannya Nabi Adam
  • Bertobatnya Nabi Adam
  • Berlabuhnya bahtera Nabi Nuh di bukit Judi
  • Diangkatnya Nabi Idris ke surga
  • Selamatnya Nabi Ibrahim dari api, saat ia dibakar Raja Babylon, Namrudz
  • Sembuhnya kebutaan Nabi Yakub dan bertemunya beliau dengan Nabi Yusuf
  • Selamatnya Nabi Musa dari pasukan Fir’aun saat menyeberangi Laut Merah
  • Suksesnya Nabi Sulaiman menguasai bumi dengan cakupan kerajaan tingkat dunia
  • Keluarnya Nabi Yunus dari perut paus
  • Diangkatnya Nabi Isa ke surga setelah usaha tentara Roma untuk menangkap dan menyalibnya gagal

Bagi Muslim Syi’ah, Hari Asyura merupakan hari peringatan kematian Husain bin Ali, cucu Nabi Muhammad SAW, di pertempuran Karbala yang terjadi di padang Karbala, yang kini menjadi bagian dari Negara Iraq.

Di Pariaman, Sumatera Barat, perayaan Hari Asyura mengacu kepada peringatan kematian Husain bin Ali. Perayaan ini mulai dilaksanakan warga setempat sejak tahun 1824, menjadi sebuah kegiatan tahunan yang tak pernah terlewatkan, bernama Festival Tabuik.

Tabuik

Kata Tabuik diambil dari Bahasa Arab, ‘tabut’, yang berarti peti kayu. Konon, setelah Husain bin Ali wafat, kotak kayu berisikan jenazahnya diterbangkan ke langit oleh buraq, makhluk berwujud kuda bersayap dan berkepala manusia. Legenda ini menjadi latar belakang Festival Tabuik, di mana masyarakat Pariaman membuat tiruan buraq yang sedang mengusung peti mati di punggungnya.

Kabarnya, budaya Tabuik merupakan bawaan masyarakat keturunan India penganut Syiah yang bermukim di Pariaman. Ada dua macam Tabuik, yaitu Tabuik Pasa dan Tabuik Subarang. Wilayah Pasa/pasar yang ada di sisi selatan sungai yang membelah Pariaman hingga ke tepi Pantai Gandoriah dipercaya sebagai asal mula tradisi Tabuik. Sementara Wilayah Subarang/seberang adalah wilayah di sisi utara sungai tersebut.

Rangkaian tradisi Tabuik terdiri dari beberapa tahapan ritual, yaitu:

Prosesi Mengambil Tanah pada tanggal 1 Muharram

Dilakukan petang hari oleh laki-laki berjubah putih, untuk melambangkan kejujuran Husain bin Ali, yang diantar arak-arakan dan dimeriahkan dengan gandang tasa. Tanah tersebut lalu dibawa ke daraga/rumah yang menjadi tempat mempersiapkan Tabuik, yang menjadi simbol kuburan Husain.

Prosesi Menebang Batang Pisang pada tanggal 5 Muharram

Menebang batang pisang sampai putus dalam sekali tebas, dilakukan seorang pria yang berpakaian silek/silat. Kegiatan ini adalah cerminan ketajaman pedang yang mengambil nyawa Husain bin Ali.

Prosesi Mataam pada tanggal 7 Muharram

Penghuni daraga/rumah tempat mempersiapkan Tabuik berjalan mengelilingi daraga sambil membawa peralatan ritual Tabuik seperti sorban, pedang Husain, dll, sambil menangis meratap, menandakan kesedihan akan kematian Husain.

Prosesi Maarak Panja pada tanggal 7 Muharram

Kegiatan membawa tiruan panja/jari-jari tangan Husain yang tercincang ke hadapan khalayak ramai, untuk memperlihatkan kekejaman perang di masa lalu. Prosesi ini dimeriahkan Tabuik berukuran kecil yang diletakkan di atas kepala seorang laki-laki sambil diiringi gandang tasa.

Prosesi Maarak Saroban pada tanggal 8 Muharram

Kegiatan membawa tiruan saroban/sorban yang menutup kepala Husain saat terbunuh di Perang Karbala. Prosesinya hampir sama dengan prosesi maarak panja.

Prosesi Tabuik Naiak Pangkek pada tanggal 10 Muharram dini hari

Dua bagian Tabuik yang telah disiapkan mulai disatukan menjadi Tabuik utuh. Seiring matahari terbit, Tabuik mulai diusung ke jalan.

Prosesi Hoyak Tabuik pada tanggal 10 Muharram

Dua Tabuik, yaitu Tabuik Pasa dan Tabuik Subarang, diusung di sepanjang jalan di hadapan masyarakat luas, sebagai simbol dua pihak di Perang Karbala. Arak-arakan ini berlangsung seharian hingga ke pinggir pantai menjelang matahari terbenam.

Tabuik dibuang ke laut pada tanggal 10 Muharram menjelang Maghrib

Acara puncak Festival Tabuik, di mana kedua Tabuik diadu di Pantai Gondariah, seperti yang terjadi di Perang Karbala, lalu dibuang ke pantai, sebagai simbol dibuangnya seluruh perselisihan antara masyarakat, serta melambangkan terbangnya buraq yang membawa jasad Husain ke surga.

Kini, acara puncak Tabuik dilaksanakan antara tanggal 10-15 Muharram, disesuaikan dengan tanggal akhir pekan. Berminat untuk melihat keseruannya?