Masjid Mahligai Minangkabau, Kekayaan Religi Kota Padang

Masjid Mahligai Minangkabau, Kekayaan Religi Kota Padang

Berwisata di tengah Kota Padang? Mau wisata ke mana? Jangan pesimis dulu. Di tengah Kota Padang ada banyak tempat yang bisa dikunjungi untuk melepaskan dahaga berwisata para petualang. Salah satunya Masjid Raya Sumatera Barat, masjid dengan arsitektur unik yang dirancang untuk ramah gempa.

Terletak di persimpangan antara Jalan Khatib Sulaiman dan Jalan KH Ahmad Dahlan, Kec. Padang Utara, Masjid Raya Sumatera Barat mulai dibangun pada tahun 2008 dan terus dibangun hingga kini, serta telah menjadi pusat kegiatan agama skala regional seperti tabligh akbar, pertemuan jamaah, penyelenggaraan Salat Ied hingga Salat Jumat setiap minggunya.

Masjid Mahligai Minangkabau

Masjid karya arsitek Rizal Muslimin ini memiliki bangunan utama yang terdiri dari tiga lantai. Luas area bangunan sekitar 40.343 meter persegi dan mampu menampung sekitar 20.000 jamaah. Masjid ini dirancang untuk mampu menahan gempa hingga 10 SR sekaligus bisa dijadikan lokasi evakuasi bila terjadi tsunami.

READ  Bali Safari & Marine Park Di Gianyar Bali

Masjid ini terlihat unik karena bagian atapnya yang terinspirasi dari atap khas rumah Minangkabau, sekaligus mengadaptasi bentuk bentangan kain yang digunakan empat kabilah suku Quraisy saat berselisih pendapat mengenai pemindahan batu Hajar Aswad di Mekkah.

Sementara itu, bagian mihrab masjid terinspirasi dari bentuk batu Hajar Aswad dengan ukiran Asmahul Husna berwarna emas di atapnya.

Dinding masjid berbentuk ukiran tempat Al-Quran dengan empat sudut yang terinspirasi dari filosofi adat nan ampek (empat jenis adat Minangkabau), yaitu adat nan subana adat (adat sebenar-benarnya adat), adat nan diadatkan (adat yang dibuat menjadi adat secara resmi), adat nan taradat (adat yang menjadi adat tanpa dibuat menjadi adat secara resmi) dan adat istiadat (adat yang diwariskan turun temurun).

READ  Lamang Tapai, Kuliner Hitam Putih Hits di Tanah Datar

Kemudian, bagian eksterior Masjid Raya Sumatera Barat menampilkan ukiran kaligrafi dan motif kain songket khas Minangkabau.

Bentuk dinding masjid yang memiliki ukiran segitiga dengan enam sudut di dalamnya terinspirasi dari filosofi tata sosial Minangkabau, yaitu tiga tungku sajarangan, tiga tali sapilin (ulama, niniak mamak / lembaga penghulu adat, cadiak pandai / para ilmuwan dan kalangan berpendidikan) yang harus memegang teguh rukun iman sebagai pengikat seluruh elemen di masyarakat.

Ukiran dengan enam sudut ini sempat mengundang kontroversi di tengah masyarakat Minangkabau, tetapi menurut beberapa kalangan, bentuk tersebut dibuat berdasarkan filosofi tiga tungku sajarangan, tiga tali sapilin. Bagaimana menurut Sanak sekalian?

READ  Keindahan Pantai Apparalang Yang Masih tetap Perawan

Ayo para pencinta arsitektur, kunjungi dan pelajari berbagai hal dari masjid ini! Tapi mendatangi masjid ini jangan hanya untuk foto-foto dan upload di media sosial ya! Mari tetap hormati Masjid Raya Sumatera Barat sebagai sebuah tempat ibadah yang patut dijaga fungsi utamanya dan kebersihannya. 🙂

Comments are closed.