Tari Piriang, Ketika Petani Bersorak Gembira!

Tari Piriang, Ketika Petani Bersorak Gembira!

Selain menjadi nelayan, bekerja sebagai petani bisa menjadi pekerjaan sejatinya orang Indonesia. Bagaimana tidak, Indonesia adalah negara dengan tingkat biodiversitas tertinggi kedua di dunia setelah Brazil, dan berdasarkan Protokol Nagoya yang berlaku sejak 12 Oktober 2014, tingginya keanekaragaman sumber daya alam hayati di Indonesia akan menjadi tulang punggung perkembangan ekonomi berkelanjutan/green economy.

Di masyarakat Minangkabau, menjadi petani adalah akar. Di keempat jorong/desa kecil di Nagari Tuo Pariangan, daerah peradaban tertua di Minangkabau, hamparan sawah terbentang luas, menjadi sumber panganan rakyat dan modal perkembangan peradaban.

Sekitar abad ke-12 Masehi, saat sebagian besar masyarakat Minangkabau memeluk agama Hindu dan Budha, serta ada pula yang masih menganut kepercayaan animisme, lahirlah sebuah tarian persembahan untuk para dewa yang telah memberikan panen berlimpah sepanjang tahun. Namanya Tari Piriang, yang dalam Bahasa Indonesia berarti Tari Piring.

READ  Mengenal Yogyakarta; Berbagai Penamaan Yang Umum

Tari Piriang

Setelah agama Islam masuk ke Sumatera Barat dan menjadi agama yang dianut mayoritas masyarakat, Tari Piriang berubah fungsi dari tari persembahan untuk dewa, menjadi sebuah bentuk hiburan saja. Gerakan Tari Piriang bisa dikelompokkan dalam dua macam, yaitu:

Gerakan yang terinspirasi dari pengaruh budaya Islam, yaitu Gerak Pasambahan, gerakan pembuka yang menyimbolkan rasa syukur kepada Allah SWT dan bentuk permohonan pada penonton untuk menyaksikan pertunjukan dengan baik.
Gerakan yang terinspirasi dari pergerakan para petani, seperti Gerak Mencangkul, Gerak Menyiang, Gerak Membuang Sampah, Gerak Menyemai, dll.

READ  Info Wisata Taman Nasional Baluran

Gerakan-gerakan Tari Piriang ini betul-betul membawa penonton ke dalam suasana perayaan yang penuh suka cita, sampai penonton sering ikut tersenyum sepanjang pertunjukannya. Kerennya lagi, di pertunjukan Tari Piriang, para penarinya mempertunjukkan kemampuan berjalan di atas piring pecah tanpa luka segores pun.

Semangat gembira juga dibangun dengan kostum para penari yang biasanya berwarna merah, kuning dan emas mencolok, diperkaya dengan alunan musik talempong, rabab dan saluang yang tak kalah riangnya.

Tari Piriang ini bukan barang asing, karena sudah terkenal di Indonesia, sampai ke seluruh dunia. Setiap ada orang Minangkabau menikahkan anaknya dengan adat Minangkabau, biasanya tarian ini pun dipertontonkan.

READ  Berwisata Ke Kebun Teh Wonosari Malang

Lalu inspirasi apa yang bisa didapatkan dari menonton Tari Piriang? Mungkin mengingatkan kita bahwa para petani seharusnya jadi salah satu masyarakat paling makmur dan paling riang di negara ini? Mungkin sudah saatnya kita pulang kampung dan mengembangkan pertanian Sumatera Barat sampai ke skala dunia?

Comments are closed.