Titian Aka, Jembatan Akar Berusia 100 Tahun di Pesisir Selatan

Titian Aka, Jembatan Akar Berusia 100 Tahun di Pesisir Selatan

Semua hal bermula dari akar. Bagian tanaman yang selalu berkembang ini sangat kaya guna, memperkokoh tegaknya tumbuhan, menyerap dan mengangkut air serta unsur hara untuk makanan tumbuhan, serta menyimpan cadangan makanan dan menjadi alat bernafas untuk beberapa jenis tumbuhan.

Di kecamatan Bayang, Pesisir Selatan, ada dua pohon yang akarnya punya fungsi lebih dari yang sudah disebutkan tadi. Di atas Sungai Bayang yang mengalir di kecamatan ini, ada sebuah jembatan yang terbentuk dari jalinan akar dari dua pohon yang tumbuh berseberangan. Lidah Indonesia menyebut jembatan ini dengan nama Jembatan Akar.

Jembatan Akar

Masyarakat Minangkabau menyebutnya Titian Aka (arti literal: jembatan akar).

READ  Kawasan Wisata Mandeh Di Pesisir Selatan Sumbar

Tahun 2016, Titian Aka genap berusia 100 tahun sejak bisa digunakan. Jembatan ini mulai dibangun pada tahun 1890 dan baru dapat digunakan 26 tahun kemudian, tepatnya pada tahun 1916. Yang kerennya, semakin tua umur jembatan ini, semakin kuat ia menahan beban di atasnya! Mantap!

Titian Aka membentang sepanjang 25 meter dengan lebar 1,5 meter serta tinggi 10 meter dari bibir sungai, dan 100% dirajut oleh akar pohon, tanpa tambahan semen, pasir atau besi. Pemerintah setempat lalu menambahkan tali besi untuk mengangkat jembatan saat musim hujan, karena terkadang debit air Sungai Bayang naik menyentuh jembatan dan ditakutkan dapat merusak jembatannya.

READ  Pantai Goa Cemara Di Bantul Yogyakarta

Dua dusun yang dihubungkan oleh Titian Aka adalah Dusun Pulut-pulut dan Lubuk Silau. Konon, seorang berilmu tinggi di Dusun Pulut-pulut yang bernama Pakiah Sokan, atau yang biasa disapa dengan sebutan Angku Ketek, membangun jembatan itu bersama masyarakat setempat.

Sebabnya, jembatan bambu yang biasa mereka pakai sering hancur dan diseret air bah saat Sungai Bayang meluap. Kabarnya untuk Pakiah Sokan hal itu bukan masalah karena beliau bisa berjalan di atas air, tetapi tidak semua orang bisa seperti beliau. Akhirnya masyarakat beramai-ramai menjalinkan akar kedua pohon yang berseberangan di tepi Sungai Bayang, dipimpin oleh Pakiah Sokan.

READ  Review Wisata Dieung Plateau Lengkap

Waktu berlalu, akar kedua pohon berjalin semakin kuat hingga membentuk Titian Aka yang bisa kita seberangi hari ini. Soal Angku Ketek bisa berjalan di atas air itu cerita setempat lho. Mau percaya atau tidak, silahkan menyimpulkan masing-masing saja. 🙂

Mau lihat Titian Aka dan main air di tepi Sungai Bayang yang menyejukkan? Gampang. Naik saja mobil sewa atau angkutan umum dari Padang. Jaraknya sekitar satu jam/65-70 km.

Nanti kalau sudah sampai, jangan buang sampah sembarangan ya. Biar keindahan Titian Aka terus terjaga dan masyarakat setempat tidak perlu repot membersihkan sampah bekas kita berwisata. Sampai jumpa di Titian Aka!

Comments are closed.